

Dulu,
kau pernah bertanya
mengundang sekeping hati ini,
untuk menjaid milik mu.
kau pernah bertanya
mengundang sekeping hati ini,
untuk menjaid milik mu.
Dan aku
hadir bersama harapan
agar kau tidak mempersiakan diriku.
Pernah juga kau bertanya
apa aku tidak menyesal memenuhi permintaan mu?
Lantas aku tersenyum,
dan kau tahu ertinya.
Tapi,
seperti dongengan rakyat,
si pengail dan puteri bongsu
yang telah hilang baju lelayangnya,
itulah dirimu dan diriku
dan aku tahu noktahnya di sini.
hadir bersama harapan
agar kau tidak mempersiakan diriku.
Pernah juga kau bertanya
apa aku tidak menyesal memenuhi permintaan mu?
Lantas aku tersenyum,
dan kau tahu ertinya.
Tapi,
seperti dongengan rakyat,
si pengail dan puteri bongsu
yang telah hilang baju lelayangnya,
itulah dirimu dan diriku
dan aku tahu noktahnya di sini.
Kini,
kau kembali
membuka tirai Hikayat Malim Deman,
mencari kekasih yang telah dikecewakan,
Kau memujuk hati ini agar menjadi milikmu,
lantas aku bertanya,
kemanakah cinta mu selama ini?
Aku tahu,
penyesalan itu ada di rongga dada mu.
Hati ini berbisik,
"untuk apa menyesali cinta yang tak pasti
kerana hari ini ia akan kembali
esok ia akan pergi...
hilang dalam kekesalan yang tak sudah..."
kau kembali
membuka tirai Hikayat Malim Deman,
mencari kekasih yang telah dikecewakan,
Kau memujuk hati ini agar menjadi milikmu,
lantas aku bertanya,
kemanakah cinta mu selama ini?
Aku tahu,
penyesalan itu ada di rongga dada mu.
Hati ini berbisik,
"untuk apa menyesali cinta yang tak pasti
kerana hari ini ia akan kembali
esok ia akan pergi...
hilang dalam kekesalan yang tak sudah..."

No comments:
Post a Comment